Mengapa membeli buku? 1


Mengapa membeli buku?

Pas membaca postingan mbak Riawani Elyta soal buku, aku langsung “Ah, pingin nulis juga soal ini.” Akhirnya setelah sedikit bebersih blog yang sudah berdebu, aku juga mau berbagi soal “mengapa membeli buku?”

Terlahir dari keluarga kelas menengah ke bawah, aku bersyukur kedua orang tuaku cukup rajin membelikanku buku bacaan aneka rupa [kebanyakan non fiksi semacam ensiklopedi]. Buku bergambar pertamaku jatuh kepada “Manai si Pelukis”. Mengisahkan seorang tupai yang gemar melukis bernama Manai. Dia menyukai tupai betina bernama Talita. Gambarnya dibuat dengan pensil warna. Benar-benar luar biasa!! Aku ingat betul aku sering menggambar Talita, menirukan Manai yang melukisnya. Mungkin karena itu juga aku suka menggambar ya?  

Akhirnya setelah sekian lama kehilangan buku itu, dua tahun lalu, aku menemukan ada yang menjualnya seharga 40ribu rupiah. Aku langsung membeli tanpa menawar [kekep bukunya erat]. Lukisannya masih tetap seindah ingatanku. OMG OMG. Tapi aku ga bs kasih fotonya karena sudah dimasukkan dalam box supaya ga dirusak Yura. 

Lalu, apa buku pertamamu? Apa masih diingat?

Lalu Bobo juga aku punya banyak sekali. Orang tuaku tidak mampu untuk membeli yang baru. Kami suka ke pasar loak dan membeli Bobo bekas dan buku-buku bekas lainnya. Saat-saat menyenangkan kala tenggelam dalam lautan buku bekas dan mencari buku yang menarik. Seperti menemukan harta karun. ehehehe

Punyakah peristiwa yang menyenangkan saat mencari buku?

[Yura tenggelam dalam sebagian komikku -Novel dimasukkan ke box coklat yang depan. Ada tiga box semacam itu]

Mungkin dari sana juga, pada umur empat tahun, aku sudah lancar membaca. Adikku juga tak jauh berbeda. Sayang sifat suka membacaku di waktu kecil sama sekali tidak menurun pada Yura [3 tahun]. Dia selalu melemparkan buku yang kubelikan, meskipun dia suka dikelilingi buku [garuk tembok] 

Novel set pertamaku adalah cerita set Enid Blyton yang “Anak dalam Cermin”, “Gadis kaya yang sombong” dll. Tapi dari semua, paling berkesan adalah “Cermin Ajaib”. Salah satu kisah di dalamnya adalah “Pak Kikir”.

Pak Kikir dan telur busuknya yang ia berikan pada pak Hidung Kecil dan berputar-putar di desa sampai akhirnya kembali padanya. Aku belajar soal “Apa yang kau tanam, itu yang kau tuai.” Inget banget, dari semua set, kami tidak punya “Babi Ungu” dan “Tommy si Pengadu”. Papa waktu itu tidak punya uang untuk beli satu set. Dan saat mau beli kekurangannya secara eceran, sudah tidak dijual. Dan akhirnya dua tahun lalu, aku bisa membelinya full set degan harga 90ribu. Aku senaaang.

Apa kamu juga punya buku yang begitu membawa kenangan?

[Sedikit koleksi bukuku yang belum masuk ke box]

Aku suka menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah. Meminjam buku ensiklopedi yang sama. Soal telur yang mengambang, pelangi, dan refraksi. Namun, dari semua buku, aku paling mencintai soal planet. Aku dulu bisa hapal 16 bulan terbesar Jupiter, nama komet dan tahun lewatnya. Dan kebiasaan itu terbawa sampai dewasa. Aku jatuh cinta pada bintang Vega dan bulan Charon. Sampai akhirnya Vega kujadikan tokoh utama komikku yang kuangkat menjadi novel di wattpad berjudul One Step – Sejejak Langkah.

Suami sering mengeluh bagaimana rumahku dipenuhi buku. Bagaimana satu lemari dan tiga box besar tidaklah cukup. Dan aku harus mengorbankan lemari bajuku untuk buku. Alhamdulillah, meski ia mengeluh, ia tak pernah melarangku menghabiskan uang untuk buku. Karena ia tahu, aku bisa bahagia dengan buku.

Aku memang belum bisa menelurkan satu buku pun, tapi aku berharap kelak, aku bisa mencetak setidaknya satu buku, untuk dipasang di lemariku, bersanding dengan dua komikku yang sudah terbit lebih dulu.

2

[Aku penimbun buku. kadang, buku yg kubeli masih banyak yang segel. ahahaha Kecepatan membeli tidak sebanding dengan kecepatan membaca]

Be Sociable, Share!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

One thought on “Mengapa membeli buku?