Baby Blues atau Depresi Paska Melahirkan? 2


Ini sharing tentang dua kelahiran yang kualami. Di mana keduanya punya tantangan masing-masing. Semoga bermanfaat.

Tiga Desember 2012, hari bersejarah buat Shirei. Shirei yang selama ini selalu dibilang “anak kecil”, “manja”, dll akhirnya melahirkan anak pertama. Kaget juga secara aku menikah tidak pakai acara pacaran pada bulan Mei 2011. Rencananya baru target bikin anak setelah setahun menikah. Puas-puasin pacaran gitu. Ehehehe Ternyata dikasih titipan sama Allah duluan. Maka jadilah Yura sebagai anak pertama.  Dia terlihat begitu menggemaskan di RS. Bulat, abu-abu, dan unyu. Waktu itu aku merasa semua akan baik-baik saja. Ya … karena hamilnya menyenangkan. Aku dimanja, semua mengasihiku. Tidak muntah, tidak mual, aku bahkan sempat cosplay dua kali saat hamil. Luar biasa!

Yura

Awal-awalnya ga semulus dugaan. Proses menyusui super menderita. Puting berdarah-darah, rasanya menderita banget. Aku yg ga tahan sakit harus berjuang tiap kali menyusui. Sampe mungkin Yura minum darahku kali yha? Aku berusaha tetap ASI dg mengingat ekonomi keluarga ga mampu kalau beli sufor dan memang sebaiknya ASIX 6 bulan awal.

Di RS kulihat dia begitu menggemaskan. Semua berubah saat kami sudah pulang ke rumah. Yura tiba-tiba terlihat ga lucu sama sekali. Yha … di history foto, aku kehilangan foto dia sampe 6 bulan. Kalau pun ada, tidak sampai 10 foto rasanya dalam masa itu. Hanya “Happy 1st month”, “Happy 2nd month” etc.

Mertua [Mami] menemaniku hanya sampai tali pusat Yura putus. Ortuku masih lengkap dan tinggal di Bekasi sesekali menjenguk saat weekend.

Yura tipe bayi yang menangis kapan pun, di mana pun. Seolah punya baterai alkaline yang tiada pernah habis. Sementara suami kalau malam Yura menangis, aku diminta pindah kamar. Rumah kami mini, kamar hanya dua. Aku seperti terusir. Yura menangis pun, tetangga pasti dengar. Aku ngantuk, sendirian. Yura kuguncang-guncang di atas kasur. Berharap dia diam. Berharap dia ga menangis. Tangisannya seolah menusuk-nusuk kepalaku yang kurang tidur karena menyusuinya. BB ku anjlog dari 63 kg ke 50 kg hanya dalam waktu sebulan.

31 Desember, belum selesai nifasku, aku terdiagnosa CTS. Carpal Tunnel syndrome. Aku tak mampu menggenggam. Jempolku seperti mati rasa. Pergelangan tanganku ga bisa ditekuk. Nyeri, sakit, menusuk-nusuk. Pekerjaanku sebagai freelancer artist gambar kacau balau. Memegang sendok saja ga mampu. Nyeri pake banget. Semua klien kutolak. Project yang sedang berjalan terpaksa kuminta berhenti dan kuberikan ke teman-temanku. Aku runtuh. Menggambar bukan cuma sumber penghasilanku. Tapi juga sumber penghiburanku. Aku sendiri. Tanpa ada sesuatu yang menopangku untuk berdiri lagi. 

tangan cts

Kelucuan Yura menguap. Bayi satu bulanku terlihat menyebalkan. Meraung tak ada hentinya. Bahkan ketika suami membelikan ayunan otomatis pun, ia ttp menangis. Aku muak. Suami sama sekali ga mau pegang Yura kecuali weekend. Dia sudah terlalu lelah dengan pekerjaan barunya. Karena saat yura 7 bulan di kandungan, ia pindah ke tempat baru, dan artinya dia masih dalam tahap percobaan. Dia harus fokus demi mendapatkan status pegawai tetap. Aku tak menyalahkannya. Toh weekend dia membantu.

Tapi aku yang biasa menggambar setiap hari baik iseng atau melepas beban, tb2 kehilangan hiburanku. Aku limbung. Semua hidupku langsung berpusat pada Yura yang terus merengek. Putingku yang berdarah-darah, dan semua sakit yang mendera tubuhku. Aku bahkan ga bs menonton anime krn setiap kali ada suara, dia terbangun dan mulai menangis. Rumah kacau balau. Aku susah mencuci piring. Bisa. Tp sakitnya luar biasa. Piring melamin diberdayakan agar aku tidak capek mencuci. Suami lebih milih makan di bungkusan supaya aku tak mencuci banyak piring. Pakaian dilempar ke laundry kiloan. Sapu sehari sekali. Ngepel hanya tiap weekend. Suami yang mengerjakan.

Aku ingat banget waktu main ke rumaah ortu di bekasi. Aku ditinggal sendirian. Yura pup dan nyembur ke dinding juga mengenaiku. Yura meraung, berteriak, pipis, dan menendang-nendang. Aku juga ikut menjerit, merung, menangis dan menelpon ibuku. Ibu panik dan langsung kembali. Aku kacau balau. Ibuku hanya tertawa begitu melihat apa yang sebenarnya terjadi. Beliau berkata, “Kok gitu aja nangis? Makanya jangan OCD, kalau kena pup nangis kan?”

Di sana aku berpikir, apa karena aku ga bisa kotor, makanya aku bisa sekacau ini cuma karena kecipratan pup bayi? Harusnya aku lbh berani kotor? Apa itu jg yang menyiksaku dg kondisi rumah yg berantakan? Apa karena aku manja sejak kecil? Apa karena aku tidak dididik untuk menjadi seorang ibu?

Saat kembali ke rumah, semua kembali kacau balau. Ada bagian belakang rumah roboh menyebabkan banyak kecoa keluar dari sarangnya. Aku ketakutann. Begitu banyak kecoa. Tugasku berkutat antara kecoa, dan tangisan Yura. Bahkan untuk ke kamar mandi saja susah sekali. Aku menangis sendirian siang itu. Suami lembur dan baru balik jam 23. Langsung tepar.

Yura menangis, aku menjerit. Suamiku ttp tidur. Dia trll lelah dengan kantornya dan aku tak berani mengganggunya. Setiap malam, aku dan Yura tidur di kamar terpisah yang tak punya AC. Hanya kipas angin.

Kupikir itu adalah hari paling buruk, sehingga suami memutuskan untuk meminta bantuan Mami lagi ke Tangerang. Kami belum menemukan PRT. Hari itu, seharian Yura menangis tanpa henti. Aku capek. Sprei sudah ganti dua kali, pdhl dia pake pospak, tp tetap kebobolan ke kasur. Aku ga tahan lagi. Malam itu, saat dia menangis, Aku lempar bantal ke wajahnya. Kutekan di sana. Berharap tangisnya mereda sejenak. Supaya telingaku tidak sakit lagi. Mami melihatnya dan langsung mengangkat Yura dari kasur. Mami tak berkata apa-apa kecuali masuk ke kamar suami dan menimang Yura di sana. Membiarkanku sendirian dan menangis seseunggukan.

Sepertinya Mami dan suami rapat darurat malam itu. Mulai hari itu, suami langsung mencari PRT lebih kenceng dari sebelumnya. Ia tak komentar apa2 soal insiden malam itu. Tidak juga Mami. Mereka juga tak memberitahukannya pada kedua orangtuaku bahwa aku melemparkan bantal dan menutupi wajah bayi yang baru berusia satu bulan lebih.

Waktu itu aku belum punya ponsel cerdas. Belum bisa online kecuali dari PC. Dan boro2 menyalakan komputer untuk mencari tahu apa yang salah dengan dirirku, aku sibuk mengurus Yura. Sore itu, suami pulang membawa sebuah ponsel cerdas pertamaku. “Kamu bisa online dari situ,” katanya. Februari, akhirnya kami resmi punya pembantu. Rumah jadi lebih bersih. Aku bisa tertawa dengan browsing-browsing sana-sini. Fangirling yang sudah lama ga kulakukan akhirnya bisa kulakukan via ponsel.

Di sana kehidupanku membaik. Aku mulai bisa tersenyum lagi saat menggantikan pempersnya. Aku mulai mengambil foto2nya meski tidak banyak. Bahkan aku sudah mulai bisa tertawa. Saat itulah aku merasa Yura mulai bisa tertawa. Entah kebetulan atau memang Yura merasakan emosiku. Yura lebih banyak tertawa. Dia terlihat lucu. Bahkan ketika dia pipis di hotel tempat adikku menginap krn ada training kantornya [aku iseng mampir], aku masih bisa tertawa. Sebelumnya aku selalu marah kalau Yura pup saat kuganti pempersnya dan mengenaiku.

img-20130506-wa0010

Aku bersyukur waktu itu ada Mami. Aku hanya mau Yura diam waktu itu. Kalau inget, aku merinding sendiri. Aku bukan tipe yang koar2 di sosmed kalau ada masalah. Paling curhat di grup private, tp waktu itu, buat online saja sulit. Maka semua kupendam sendiri dan cuma bisa curhat ke adik. Sekarang aku tahu, mungkin aku mengidap depresi pasca lahiran. Alhamdulillah Yura masih dalam lindungan Allah. Dan dia masih bisa menyaksikan adik pertamanya lahir.

Aku juga bersyukur bagaimana Yura sering memelukku. Rasanya kehisteriaanku dulu hanyalah mimpi buruk belaka. Yura terlihat SANGAT LUCU. Menggemaskan dan aku menyukai semua tentang dirinya.

dsc_0429_resize

Di sana aku belajar, bahwa baby blues bisa menjadi lebih parah dan menjadi depresi hingga membahayakan nyawa Bayinya. Kupikir, ‘oke, pelajaran dari baby blues pertamaku, I will never let it happen again in my second child.’

Tapi semua bubar. Aku ada rencana untuk pergi menengok Mbah di Trenggalek July 2016. Tapi Januari 2016 aku dideteksi hamil. Kalimat pertama dari Mama saat tahu aku hamil adalah, “KOK KEBOBOLAN?! Kamu gimana sih? Gara2 kamu acara reunian keluarga besar batal semua.”

Aku runtuh….. Bukan mauku kan hamil? Aku tidak KB dan memang jaraknya juga sudah hampir 4 tahun. Aku drop. Yang tadinya hepi, ga pusing, ga mual, ga muntah, tiba2 jd nangis hampir setiap hari. Flek, mual, muntah. Kacau sekali. Aku merasa mengandung anak yang ga diharapkan. Ga ada rasa senang. Semua lenyap. Tiba-tiba aku menangis tanpa sebab. Kalau sudah gitu, suami cuma memelukku dan berkata, “Aku menanti anak ini. Mami juga. Mama Juga. Papa juga.”

Aku tidak menyalahkan Mama sepenuhnya krn mama mungkin kangen dg ibunya dan itu keceplosan sesaat. Lagipula, rencana mau bawa cicit2 ketemu uyutnya sudah dr tengah thn 2015. Wajar kalau Mama kelepasan kesel.

Mama terlihat khawatir bgt saat tahu aku roboh pas hamil. Mama bahkan beberapa kali menjengukku di Tangerang. Aku memang anak kesayangan beliau. Tp mendung yg sudah tercipta tak kunjung menyingkir. Mungkin juga karena aku pusing tentang pembelian rumah kedua yg kurang dpt restu dr ortuku krn jauh dr mereka [aku beli di Depok].

Aku menjalani kehmilan terberat yg pernah kualami. Hanya tiduraaaaan. Bed rest. Berdiri dikit langsung flek. Pernah sampe menetes di lantai. Semua kacau balau. Aku sampai berulang kali kepikir, “Buruan lahir, aku udah ga tahaaan.”

Yufa akhirnya lahir dengan operasi krn ketuban pecah, sementara bukaan tidak kunjung bertambah dan ada lilitan ketat dua kali di leher. Padahal paginya dokternya bilang masih akan mengusahakan normal. Tapi kenyataan berkata beda. Aku yang tidak tahan sakit harus berhadapan dg nyeri pasca operasi. Sejak pertama kali Yufa dilahirkan, ia sama sekali tidak terlihat lucu. 

PRT juga ga ada karena PRTku resign beberapa minggu sebelum aku lahiran. MANCHAAAAP! Mami tampaknya khawatir akan kondisiku. Beliau menemaniku satu bulan penuh. Mama juga sesekali datang menjenguk. Namun, Yufa tetap terlihat tidak lucu.

Semua foto dia yang kuambil, selalu ada foto kakaknya bersamanya. Aku kadang marah-marah tanpa sebab. 

14570651_1767973896775371_1044212436474575454_o

Alhamdulillahnya, Yufa tak serumit Yura. Dia hanya menangis sekali atau dua kali sehari. Itu pun tak sampai tiga menit. Dia pendiam. Kalaupun bangun, ia hanya menatap kosong atau tersenyum sendiri. Masalah utama dia hanya frekuensi gumoh dan muntah yang sering serta kulitnya yang super sensitif. Adik bilang, mungkin krn aku sudah terbiasa mengurus bayi, jadi tahu apa yg Yufa butuhkan jadinya dia tidak menangis banyak. Entahlah.

Sampai detik ini, Yufa berusia 1 bulan lebih 2 hari, pertanyaanku hanya satu, “Kapan ia akan terlihat lucu di mataku?”

Setidaknya aku tak ada niatan untuk membekap mulutnya. Suami juga lbh kooperatif. Pagi2 aku belum bangun, pempers Yufa sudah ia ganti, kadang malam pulang kantor juga. Aku dibiarkan tidur bersamanya karena Yufa ga banyak menangis. Aku dibelikan Ponsel cerdas baru menggantikan ponselku yg dibanting Yura tahun lalu. Dan ia juga paling sibuk mencarikanku PRT baru. Mami berulang kali menelepon menanyakan kabar Yufa, menanyakan apa aku begadang, apa aku sudah makan. Ahahaha Mama juga ga kalah sibuknya menanyakan berapa BB ku. Apa BB ku turun? Apa aku banyak makan? hihihi

Bahkan adikku membelikanku Mikazuki Munechika Nendoroid sebagai hadiah lahiran. Katanya “Hadiah buat anak itu udah mainstream. Ibunya juga butuh hadiah dong!” Dia pikir aku suka Jijiiii…. karena Stage Play TKRB yg main aktor kesukaanku [Suzuki Hiroki]. Aku suka Hachisuka, Deeeeek! lol

nendoroid mikazuki munechika Suzuki hiroki TKRB stage play

Dengan semua support yang kudapat di kelahiran keduaku ini, semoga aku bisa segera melihat Yufa selucu kakaknya.

Baby blues, depresi pasca melahirkan berbeda. Betul juga. Ini bagannya [credit to Tiga generasi]

whatsapp-image-2016-10-11-at-08-15-07

Aku memang tidak mendapat bantuan psikolog, karena aku tak tahu waktu itu aku membutuhkannya. Saat ini mungkin aku hanya terkena baby blues ringan saja. Semoga lekas membaik. Dan semoga ibu-ibu yang baru melahirkan di luar sana juga menyadari bahwa menjerit minta bantuan itu tidak apa-apa. Meminta bantuan ga berarti kita lemah. Karena kita manusia adalah makhluk sosial dan memang butuh orang lain utuk menyangga kita di saat kita jatuh.

Aku berbagi karena ingin menunjukkan bahwa tidak apa-apa depresi, asal kita menyadari kita butuh bantuan dan segera mencari pertolongan. Jangan sampai kita terlambat untuk menjerit sehingga jeritan yang keluar justru jeritan penyesalan yang tidak berakhir.

Mari kita dukung para ibu agar mampu melewati baby blues dan tidak naik menjadi depresi atau psychosis. Jaga komentar kita. Karena komentar sekecil apa pun, bisa membuat seseorang jatuh dan sulit untuk bangkit.

Tangerang, 11 Oktober 2016

Ditulis sambil bertanya sama Mami dan adikku karena aku sudah agak lupa. Ahahaha

Incoming search terms:

  • suamiku menyiksaku wattpad (2)
  • cerpen suami manja wattpad (1)
  • Cerpen wattpad melahirkan anak (1)
  • Www terpaksa hamil wattpad (1)
Be Sociable, Share!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “Baby Blues atau Depresi Paska Melahirkan?